Sunday, January 30, 2011

Hening Malam Yang Berbeda

Assalamu'alaykumwrwb...
syukron jazzakumulloh khoiru jazza atas do'a dan kunjungan antum-antunna, ❤
Semoga keheningan malam kita selalu diisi kemesraan dalam balutan cintaNYA, amiin...


salam ukhuwah,
-bidadari_Azzam-


pic night in this winter,Krakow ^-^

Melayang kembali ingatanku di masa kecil, masih tak jauh berbeda dengan generasi ayah-ibu kita, saat tayangan televisi hanya ada TVRI, masih hitam putih gambarnya, dan acara yang paling sering ditonton keluarga sebelum tidur adalah ‘Dunia Dalam Berita’. Kalau acara itu sudah dimulai, tandanya sudah larut malam, tak boleh keluar-keluar lagi, walaupun untuk pergi ngobrol dengan teman tetangga sebelah rumah.

Selain itu, satu tradisi keluargaku yang sangat unik, dulu, semua anak wanita harus berambut panjang, kami berempat anak perempuan ‘lomba membagus-baguskan’ rambut yang panjang, tak mau kalah dengan zaman ibu waktu masih muda, beliau punya rambut se-tumit kaki yang tiap hari selalu disanggul rapi. Kakak-kakakku rambutnya se-lutut, sementara aku biasanya hanya sampai sepinggang, lalu dipotong dan dipotong lagi, seiring pernah rontok akibat thypus dan gangguan rambut seperti rambut bercabang, gatal-gatal, dsb. Kadang-kadang sebelum tidur, sambil nonton berita, kami gantian membantu sisiran rambut, membuat kuncir dan kepangan rambut, atau belajar bersanggul. hehe. Namun saat hidayah menutup aurat datang, ternyata perawatan rambut malah menjadi makin mudah dan cepat.


Begitulah, walaupun kami harus telaten merawat si rambut panjang ini, tak pernah absen dari jadwal ketat usai maghrib : antrian mengaji, guru ngajinya yah ibuku sendiri, kadang-kadang kakakku bergantian mengajari, dia yang sudah duluan khatam bacaan qur’annya. Saat kesibukan kami makin bertambah, ada yang kuliah dan harus les tambahan pun, tetap harus pulang sebelum maghrib. Pernah kakakku terpaksa pulang seusai waktu isya’ saat harus mengerjakan skripsinya di rental komputer dekat kampus, akhirnya bapakku selalu menjemput dan menungguinya di rental tersebut.


Sungguh model orang tua yang lumayan ketat menjaga anak-anaknya, penilaianku terhadap orang tuaku seperti itu. Kadang-kadang orang tuaku membantu kami menyusun buku pelajaran di waktu malam, seraya memeriksa tas sekolah, laci meja belajar (itu baru kusadari saat sudah menikah, bahwa mereka sangat peduli akan aktivitas anak-anaknya, diam-diam selalu menggeledah isi tas, laci, dsb). Dan dulu pernah zaman SMP, saat naik motor dengan bapak, beliau membahas hal tentang surat cinta, “Jangan dimarahi kalau ada yang bilang menyukaimu, nak… bilang aja, sekarang harus belajar yang baik, harus jadi anak pintar, tidak boleh pacaran, kalau berteman saja, boleh…”, hehe…Saya sempat bengong waktu itu, ternyata beliau mengetahui, memang beberapa hari sebelumnya ada surat cinta dari teman terselip di catatan bahasa Inggrisku, padahal surat itu pakai bahasa Inggris lho…


Di keheningan malam kala tiba-tiba terbangun kebelet pipis, kadang-kadang kulihat orang tua sedang mengobrol di dapur sambil makan snacks. Barulah saat sudah menikah kusadari, mungkin orang tuaku sering diskusi berduaan di saat anak-anaknya sudah pulas. Apalagi saat kami semua berusia remaja yang tentunya semakin banyak problema, sering kali tak hanya bapak dan ibu yang berdiskusi malam-malam, kakak yang lebih tua kadang-kadang curhat pada ortu malam-malam, adik-adiknya sudah tidur. Akhirnya masa itu pun kurasakan, saat di bangku SMU, kebiasaan bangun di keheningan malam seperti sudah jadi kewajiban, ibu rajin membuatkan camilan saat Saya wudhu dan belajar, lalu kami qiyamul lail dan ‘curhat’ (maksudnya Mencurahkan isi hati). Perasaan lega dan tentram, dan kemungkinan besar ortuku pun sangat senang karena anak-anak terbuka pada mereka.


Selanjutnya baca di link Oase Iman-Eramuslim ini, seperti biasanya yah say... :-)


No comments:

Post a Comment